Halal Is Our Life Style

Halal Is Our Lifestyle

Akhir-akhir ini banyak sekali masyarakat yang tidak teliti untuk memutuskan produk apa yang akan dikonsumsi. Tidak mempedulikan lagi bagaimana proses pembuatan produk yang akan dibeli. Bahkan cenderung mementingkan gengsi disebabkan minder jika tidak menggunakan produk tersebut.

Pada kenyataannya produk tersebut belum terjamin kehalalannya. Gaya hidup menunjukan pola tingkah laku, bagaimana orang hidup, bekerja, membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu.

Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan. Jika dikaitkan dengan kata halal, maka sangat berkaitan erat dengan gaya hidup. Apatah lagi jika konsumennya sorang muslim.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa halal sebagai gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan atau aktivitas yang halal, membelanjakan uangnya untuk makan, minum dan pemenuhan kebutuhan pokok lainnya serta bagaimana mengalokasikan waktu secara halal.

Tak lupa juga dengan pendapatan yang diperolehpun dari sumber yang halal. Islam benar-benar serius dalam memelihara jiwa dan akal. Pemeliharaan jiwa dan akal itu dilakukan dengan memberikan makanan sehat sejak masa kehamilan, kelahiran, kemudian selama tahapan-tahapan kehidupan berikutnya.

burger makanan yang bervariasi
sumber : https://www.mcdonalds.com/

Syariat menganjurkan untuk memakan makanan yang beraneka ragam dan seimbang yang memang diperlukan tubuh manusia, sehingga seorang muslim dapat tumbuh sehat dan normal. Akan tetapi jangan sampai lupa akan konteks halal dan baik yang telah ditetapkan syariat Islam.

Makanan yang halal adalah makanan yang dibolehkan oleh agama Islam, baik dari segi hukumnya maupun kehalalan dzat-nya. Misalnya telor, buah-buahan, sayur-mayur dan lain-lain. Makanan halal hakikatnya adalah makanan yang didapat dan diolah dengan cara yang benar menurut agama.

Misalnya makanan seperti contoh di atas yang diperoleh dengan usaha yang benar, sapi yang disembelih dengan menyebut nama Allah dan lain-lain. Adapun makanan yang baik adalah makanan yang dapat dipertimbangkan dengan akal, dan ukurannya adalah kesehatan.

Artinya, makanan yang baik adalah yang berguna dari segi kesehatan dan tidak membahayakan bagi tubuh. Firman Allah yang menjelaskan mengenai makanan yang halal dan baik terdapat dalam QS. Al-Baqarah : 168 yang artinya,

”hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang  terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Makanan yang di asup akan berdampak pada pertumbuhan jasmani dan rohani seseorang maupu keuarganya. Oleh karena itu nilai dan keyakinan atas adanya kewajiban untuk memilih produk halal didukung oleh hadits Rasulullah Saw.

Penasaran dengan  Penemuan Terbaru, Khasiat dan Manfaat Udang Bagi Kesehatan

”tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari (makanan) yang haram, neraka lebih pantas baginya” (HR. Ahmad).

kurma buah dengan banyak barokah
sumber : http://infohaji.co.id/

Di Indonesia, sudah ada Majelis Ulama Indonesia yang memiliki Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan kosmetika (LPPOM). Tugas dari LPPOM adalah menganalisa dan memutuskan apakah produk-produk seperti pangan, obat–obatan dan produk kosmetika aman dikonsumsi.

Baik dari segi kesehatan maupun ajaran agama Islam, sehingga umat Islam akan mendapat ketenangan dalam mengonsumsi produk-produk tersebut. Berdasarkan perkembanhgannya, ada sepuluh sektor halal tourism/lifestyle yang ada di Indonesia, diantaranya ;

makanan, Keuangan, Kosmetik, Pendidikan, Fashion, media dan rekreasi, Farmasi, medis, kesenian dan budaya. Pada Kamis (6/10) kemaren, Kementerian Pariwisata mengadakan Indonesia Halal Lifestyle Conference (IHLC) di Artpreneur Ciputra World, Jakarta. Ini merupakan Expo Halal Tourism pertama yang diadakan di Indonesia.

Yayat supriyadi (2005) menemukan banyak dotrin islam yang menekankan agar umatnya selalu waspada dari pengaruh makanan haram, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh Karena itu, hendaknya konsumen muslim mengukuti perkembangan teknologi yang menghasilkan berbagai macam produk makanan melalui prosesnya.

Hal itu dimaksudkan guna menghindari diri dan keluarga dari produk makanan haram. Sikap konsumen muslim tersebut perlu juga didukung dengan seperangkat wewenang yang memadai dari pemerintah.

Pemerintah dapat melakukan regulasi peraturan perundangan pangan dan memperkuat eksistensi lembaga yang mengurusi masalah makanan halal. Salah satu diantaranya adalah dengan menerapkan sistem label pangan.

Halal Is Our Life Style
sumber : http://abdurakhman.com/

Jika sistem label diberlakukan bagi industri makanan, maka akan membuat masyarakat lebih tentram dan nyaman dalam mengonsumsi makanan. Selain itu, konsumen perlu bijak memilih keperluan sesuai dengan yang diperintahkan Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Konsumen muslim perlu memastikan label halal yang resmi dan sah. Pentingnya label halal yang resmi dan sah supaya tidak keliru dengan label halal yang digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melariskan barang mereka.

John Naisbit Dalam Anwar (2007) mengatakan, pada era global masa kini segala sesuatunya sudah serba teknologis, terutama dalam masalah gaya hidup (global life style). Budaya yang mengalami perkembangan dahsyat yaitu berkenaan dengan makanan, pakaian, dan hiburan. Ia menyebutnya dengan istilah 3F. yaitu ;  food (makanan),  fashion (pakaian), dan fun (hiburan).

Pada era globalisasi, industri makanan di Indonesia mestinya dapat meningkatkan daya saing melalui jaminan produk halal dan baik. Kerena produk yang halal dan baik akan menjamin bahwa produk tersebut bergizi, bersih, bebas dari seala hal yang membahayakan fisik.

Penasaran dengan  Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangan Masyarakat yang Tinggal Didaerah Beriklim Muson Tropis

Gaya hidup halal dapat dimulai dengan menekankan pentingnya produk-produk seperti makanan, obat-obatan atau pun kosmetik yang halal. Hal tersebut dapat dijamin dengan melihat ada tidaknya label halal yang ditunjukkan.

Label halal pada suatu produk dapat digunakan sebagai panduan bagi konsumen muslim untuk memilih atau membeli suatu produk. Oleh karena itu, setiap pengusaha perlu menyadari betapa pentingnya aspek halal suatu produk bagi keberadaan dan perkembangan usahanya.

Jika menghilangkan aspek halal suatu produk, artinya cepat atau lambat akan membuat rugi pengusaha itu sendiri. Pengusaha yang tidak peduli akan gaya hidup halal sama halnya seperti menggali kuburan sendiri.

Sebagai pilihan terbaik, seorang pengusaha harus mewajibkan diri untuk memiliki sistem jaminan halal yang dapat menjamin bahwa produk yang dihasilkannya selalu bebas dari bahan yang meragukan apalagi haram.

makanan dari negeri sebelah
sumber : https://astridadelita.files.wordpress.com/

Lebel halal memang merupakan tindakan duniawi dan ukhrawi. Karena bertujuan untuk menjamin bahwa yang dimakan sesuai dengan syariat Islam. Serta merupakan upaya perlindungan kepada masyarakat muslim. Lebel halal merupakan tindakan keagamaan.

Pemerintah mempunyai kewajiban mengadakan sebuah prosedur dan mekanisme yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan produk halal. Peranan lebel halal sama dengan baju yang dipakai manusia. Ia dapat membentuk dan mencantumkan citra diri pemakaiannya.

Setiap keluarga muslim harus membiasakan diri memakan makanan halal dengan cara memperhatikan ada atau tidak adanya lebel halal pada kemasan makanan, minuman, obat-obatan maupun kosmetik.

Sampai saat ini masih terdapat masalah mengenai pemilihan mengenai ada tidaknya lebel halal yang tercantum pada suatu produk. Karena belum ada aturan yang menetapkan bentuk lebel halal yang khusus.

Pengusaha dapat saja mencetak tulisa halal dalam huruf latin dan atau Arab dengan bentuk dan warna yang berbeda. Transformasi gaya hidup halal masih terganjal atas ketidak adaan undang-undang jaminan produk halal.

Sembari menunggu Undang-undang jaminan produk halal terbit, kecerdasan konsumen mengaplikasikan transformasi gaya hidup halal sangatlah penting.

Ada beberapa prinsip yang dapat diamalkan konsumen, yaitu memastikan sumber makanan berdasarkan lebel halal, memastikan kandungan bahan yang dapat membawa kemudaratan, tidak mudah terpengaruh dengan iklan, memilih kawasan rumah makan yang bersih, luar dan dalam, dan memasak sendiri masakan.

Sesungguhnya jika kita mampu menerapkan konteks halal dalam segala aktivitas kehidupan, maka akan sangat banyak manfaat yang akan dperoleh, diantaranya;

  1. Membawa ketenangan dalam kehidupan sehari-hari,
  2. Dapat menjaga kesehatan jasmani maupun rohani,
  3. Mendapat perlindungan dari Allah,
  4. Semakin teguhnya iman dan ketaqwaan kepada Allah Swt,
  5. Tercermin kepribadian yang jujur dan sikap apa adanya dalam hidupnya,
  6. Rezeki yang diperolehnya mendapat barokah dunia akhirat.
Penasaran dengan  Apa itu Baper, Mager, dan Gabut?

Kesimpulan : Saran-saran tak perlu dilakukan oleh pihak yang berkaitan, ungkapan harapan harapan, peringatan-peringatan yang perlu diwaspadai, dan bentuk bentuk lain yang sifatnya menutup suatu ide ato gagasan.

akanan yang halal pasti baik
sumber : http://i.dawn.com/

Dari pembahasan mengenai halal is our lifestyle, maka dapat disimpulkan bahwa mengedepankan kata gengsi untuk mengonsumsi suatu produk akan merugikan diri sendiri jika pada kenyataannya produk tersebut tidak terjamin kehalalannya.

Boleh jadi akan membahayakan jasmani maupun ruhani seseorang. Jika masyarakat masih mempertahankan sikap ketidak peduliannya mengenai akan pentingnya konteks halal dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Maka cepat atau lambat dampak buruk pun akan menimpa. Contohnya jika ia seorang pengusaha, maka usaha yang ia bangun  lambat laun akan gulung tikar. Oleh karena itu, jangan pernah berniat untuk menghilangkan konteks halal dalam kehidupan sehari-hari.

Hendaknya pemerintah segera mengeluarkan undang-undang mengenai jaminan produk halal agar masyarakat bisa dengan mudah untuk mendapatkan produk yang sudah terjamin kehalalannya.

Lantas apakah boleh sembarang memilih produk sembari menunggu UU dari pemerintah tersebut?. Tentunya tidak, solusinya cukup dengan mengamalkan prinsip mengenai kecerdasan konsumen dalam mengaplikasikan transformasi gaya hidup halal.

Sehingga umat Islam akan mendapat ketenangan dalam mengonsumsi makanan, minuman, serta obat-obatan dan kosmetik.

Penulis :

Sa’adah Tri Hayatun

(Mahasiswi STEI Sebi Jurusan Akuntansi Syariah)

Leave a Comment