Keberagaman dalam Konteks Wilayah Cirebon dan Pesantren Kempek

“Tidak ada gunanya menjadi makin makmur dan modern, tetapi kehilangan hal yang sangat fndamental dan terbaik bagi bangsa kita, yaitu Pancasila, kebhinekaan, semangat persatuan, toleransi, kesantunan, pluralisme, dan kemanusiaan”, tutur presiden SBY diakhir tahun masa jabatannya.

Dalam pidato kebangsaanya itu, beliau menuturkan bahwa Indonesia bukan negara keagamaan, artinya negara yang merangkul sekaligus memikul berbagai agama, etnis, bahasa, adat, maupun budaya. Meski kaya akan keragaman, namun masih memegang teguh persatuan. Merujuk pada sensus penduduk BPS pada 2010, bahwa Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa.

Karesidenan Cirebon adalah salah satu miniatur keberagaman Indonesia. Di mana aecara geografis, wilayah Cirebon dikenal dengan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) yang di dalamnya terdapat ragam suku dan tradisi, diantaranya: Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, Minang, Batak, Madura, Bugis, Aceh, dan lainnya. Keberagaman inilah yang terus memacu semangat rakyat Cirebon untuk terus maju membangun peradaban menuju kota yang semakin bercahaya.

Menurut Marzuki Rais, dalam artikelnya yang berjudul “Potret Intoleransi dan Radikalisme Agama di Wilayah Cirebon”, penganut agama dan kepercayaan di Cirebon yang beragama Islam berjumlah 6.165.205 orang; Kristen 38.305 orang; Katolik 98.574 orang; hindu 2.043 orang; Buddha 15.006 orang; Kong Hu Chu 426 orang; dan kepercayaan lain sebanyak 585 orang.

Sebagian buktinya yaitu adanya karya monumental Kereta Paksi Naga Liman di keraton Kanoman, dan Kereta Singa Barong di Keraton Kesepuhan. Dari kedua karya tersebut oleh sejarawan ditafsirkan sebagai simbolis hubungan persahabatan dengan antar bangsa.

Kereta yang berbentuk menyerupai hewan itu merupakan gabungan tiga binatang, yakni: Burung, Gajah, dan Naga. Artinya burung yang menyerupai buroq ialah simbol persahabatan dengan bangsa Arab dengan Jslam, Gajah dengan negri India yang beragama Hindu, dan ular Naga dengan Negri China yang berupa Tionghoa.

Penasaran dengan  Kumpulan Cerpen Islami yang Mengharukan, Hadiah terbaik

Semangat bangun dan diplomasi yang dipraktekan oleh Mbah Kuwu, membuat nama Cirebon semakin harum dikunjungi oleh bangsa dan agama yang beraneka ragam. Akhirnya pola hidup keluarga dan sosial didaerah ini, sudah terbiasa berdampingan dengan suku atau agama yang berbeda. Namun, tetap tidak menutup kemungkinan juga bisa membuka lembar konflik internal.

Oleh karena itu, lembaga yang bergerak di bidang pendidikan terbesar, yakni Pesantren diperkenalkan dengan baik mengenai iklim perbedaan. Dari rutinitas aktifitas harian, hingga prinsip-prinsip yang telah diterapkan dan diajarkan oleh kyai, semuanya mengacu pada menerima perbedaan.

Kitab kajian yang digelar juga mendidik dengan membacakan banyaknya perbedaan pendapat ulama dalam menyajikan produk hukum. Sebut saja yang termasyhur yakni hujjahnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Uniknya, meskipun produk yang dihasilkan terkadang kontras, namun tidak pernah terjadi konflik yang saling menjatuhkan.

Pondok Pesantren Kempek sebagai lembaga pendidikan yang sudah berdiri sejak tahun 1908 masih teguh menganut sistem pemondokan dan memegang pada manhaj tarbiyah ulama salaf, yakni cocogan, lalaran, dan musyawaroh.

Seperti halnya yang ditekuni oleh pesantren ahlussunnah wal jama’ah an-Nahdliyah pada umumnya sebagai potret pembinaan karakter yang majemuk. Ponpes Kempek diisi bukan hanya dari daerah sekitar pesantren, namun juga diisi oleh luar daerah bahkan luar pulau.

Penasaran dengan  Kecewa Tak Mampu Merebut Kebahagiaan

Berdasarkan data sensus Pondok Pesantren Kempek Putra tahun 2020, jumlah santri yang masih terdaftar ada 780, yang terdiri dari berbagai kota, yakni ; Indramayu, Cirebon, Tegal, Brebes, Majalengka, Kuningan, Subang, Bekasi, Tangerang, Bogor, Jakarta, Karawang, Pekalongan, Pemalang, Bandung, Banten, beberapa kota di Sumatra.

Dikisahkan, bahwa dulu pada masa Mbah Walid (KH. Umar Sholeh), juga banyak diisi dari Malaysia, bahkan terdapat asramanya sendiri. Sedangkan untuk jumlah asrama tahun ini beejumlaj 24, yang mayoritas bernamakan suatu desa atau wilayah, seperti Jati Sawit (biasanya dari Indramayu), Terisi, Lungbenda, Losari, Indrasuci (Indramayu, Subang, Cilamaya), Bangunsari (Jabodetabek), dan lainnya.

Tetapi meskipun seperti dikelompokan per daerah yang membuat kesan ber-geng, namun sebenarnya tidak menutup kemungkinan dari daerah lain masuk. Misalnya, Asrama Jati Sawit pun ada santri yang berasal dari Juntinyuat, Cirebon, Subang, Majalengka, Tegal, hingga Kendal.

Dari potensi ini keberagaman sudah dipupuk dari mulai hubungan sosial di asrama. Dalam tempat tinggalnya pun dibiasakan bergaul dengan daerah atau suku yang berbeda yang pastinya tradisi komunikasi atau bergaul pun berbeda.

Usaha pengendalian keberagaman ini dirawat dengan beberapa moment dan tradisi kepesantrenan, seperti Musyawaroh pengajian tiap malam, sholat berjamaah, Marhabanan, lomba pidato daerah dan lainnya. Hal tersebut merangsang santri untuk berinteraksi menjalin kerjasama, saling mengerti, dan menghormati atas pendapat orang lain.

Oleh karena itu, alumni pesantren Kempek akan terbiasa dan mampu bermasyarakat dengan baik meskipun dalam lanskap masyarakat yang berbeda dan majemuk. Bukan hanya soal kehidupan bermasyarakat, dalam soal ekonomi, ketika tidak mampu bekerja di sektor formal, maka alumni Kempem akan mampu menciptakan pekerjaan atau usaha sendiri, paling tidak akan aktif di masyarakat sebagai tokoh agama.

Penasaran dengan  Ini Adalah Pilihan

Ayo mondok di Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Pendaftaran Pondok Pesantren Kempek kini tak perlu repot-repot lagi datang ke pondok. Bisa dilakukan dirumah saja menggunakan smartphone Android, iOS atau laptop yang terhubung dengan internet. Caranya dengan meng klik link ini : Pendaftaran Pesantren Kempek.

Lalu buka halaman website Pondok Pesantren Kempek. Ikuti instruksinya dan isi formulir hingga selesai. Setelah melakukan proses pendaftaran, maka akan ada notifikasi di nomor Whatsapp yang didaftarkan tadi.

Cukup mudah bukan?.

Penulis : Agus Salim

Tinggalkan komentar