Kecewa Tak Mampu Merebut Kebahagiaan

Kecewa Tak Mampu Merebut Kebahagiaan – Malam itu bogor terbungkus hujan. Udara dingin yang begitu menusuk. Tetapi Arina enggan beranjak dari kursi di teras rumahnya itu. Menatap hujan yang entah kapan akan berhenti.

Berharap hujan mengantarkan mimpi untuknya. Mimpi untuk membawanya pergi keliling dunia. Ke pulau dewata pun belum pernah, apatahlagi keliling dunia. Sangat mustahil pikirnya.  “prang..” suara piring yang jatuh membuyarkan lamunannya.

Ia pun langsung masuk ke dalam rumah dan melihat tangan adik kecinya yang berumur 6 tahun itu sudah berlumur darah. “ibu…” teriak rina beberapa kali memanggil ibunya. Ia pun baru teringat bahwa ibunya masih bekerja.

Ibu berganti status sebagai kepala keluarga sejak Arina menduduki kelas satu SD. Ya, ayahnya meninggalkan keluarganya karena telah menikah dengan perempuan lain. Rasanya sakit. Ingin sekali ia menemui ayahnya, bertanya kenapa ayah lebih memilih perempuan lain dan meninggalkan keluarganya? Mengapa tidak memilih dua duanya?

Mengapa ayah tidah mampu mempertahankan keluarga kecilnya? Aku, adikku dan ibu. Hanya itu yang terpikir dalam benaknya jika ia melihat kondisi keluarganya yang sudah berubah. Sekarang ibu harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami.

Penasaran dengan  13 Manfaat Buah Semangka Bagi Ibu Hamil dan Janin

Dan tanggung jawabnya terhadap adiknya diserahkan sepenuhnya pada rina. Arina pun langsung mengambil alat p3k untuk mengobati adiknya. Menenangkan adiknya ketika menangis mencari ibunya, ia pun menina bobokan adiknya sambil menunggu kedatangan ibu tercintanya.

Sampai akhirnya ia pun tertidur. Keesokan harinya ia pun terbangun dari tidurnya karena semburat matahari menyusup dari jendela. Aroma masakan pun tercium sangat harum dari ujung dapur sampai ke kamar rina. Ia pun langsung bergegas mandi karena sebentar lagi akan jalan-jalan.

Entahlah ia dan adiknya pun tak tahu mereka akan diajak kemana oleh ibunya. Karena semenjak kepergian ayah jarang sekali ibu mengajak kami jalan-jalan pada saat libur panjang tiba. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kami pun baru tiba di rumah.

Senang rasanya melihat ibu sebahagia ini. Karena jika ibu sedih rina pun akan ikut bersedih. “kring…” dering telfon pun berbunyi ketika kami sedang makan malam.“ibu ada telfon” ucap rina pada ibunya.

Kemudian ibu rina pun mengangkatnya. “wa’alakumussalam.. Alhamdulillah sehat na, kamu sendiri gimana kabar?” “ia nanti akan ibu sampaikan kepada rina”, “iya, wa’alaikumussalam..”“tadi siapa bu yang telfon?” ucap rina“ini sepupumu Dina, katanya kalau dia libur kerja ia ingin mengajakmu untuk berlibur, kamu mau tidak rin?

Penasaran dengan  Tentang Penulis

”Mendengar tawaran tersebut, rina pun langsung berjingkrak-jingkrak senang dan bertanya“berlibur kemana bu?”“ke Bali” jawab ibunya Bali adalah pulau impian utama Rina sebelum ia mampu keliling dunia. Langsung saja ia menerima tawaran kak dina untuk berlibur ke Bali.

1 minggu sebelum Ramadhan, arina mulai khawatir, apakah liburan ia kali ini akan terlaksana sesuai keinginannya atau malah sebaliknya. Ia pun bertanya apa sepupunya itu sudah mendapatkan tiket. karena banyaknya orang yang membeli tiket untuk pulang kampong.

“Sudah selesaikan dulu makanmu setelah itu langsung gosok gigi dan tidur, jangan lupa ajak adikmu juga”. Tatah ibu.“iya bu” jawab Rina.Ibu rina pun langsung beranjak untuk membereskan piring bekas makan kami.

Kecewa Tak Mampu Merebut Kebahagiaan
Kecewa Tak Mampu Merebut Kebahagiaan

Sehabis dari kamar mandi, rina pun melihat pintu yang belum tertutup di balkon yang ada ditingkat atas. “dik, kamu ke kamar duluan yah, kaka mau tutup pintu dulu” pintanya. Akan tetapi adiknya tak mau pergi sendirian, dan ia mengikuti rina.

Bukannya malah menutup, rina malah terlena melihat suasana sekitar. Hening, taka da seorang pun. Seperti biasa, daerah kami memang sepi jika sudah mulai menunjukkan pukul 23.00 WIB. Adik rina dari atas melihat ada 4 pasang sepatu di depan rumah tetangga kami.

Ia pun bertanya, “kak, yang paling besar itu sepatu siapa?”sepatu paman Rido dik” jawab Rani”kenapa sepatu paman rido itu besar ka?” tanyanya lagi”karena paman rido mempunyai badan yang besar, kan nggak mungkin kalau paman Rido yang mempunyai badan besar memakai sepatu yang kecil de” jawab Rina lagi“kaka satu pertanyaan lagi kak”“apa de?

Ini sudah malam, kamu harus tidur!”“satu lagi aja kak, please..”  Rina pun mengagguk“kenapa sih kak semua laki-laki itu berbadan besar?” “karena mereka bekerja keras, mereka banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka de, kanapa? Agar keluarganya tidak kekurangan. Paham?

” Ia pun teringat lagi sosok ayahnya, dan rasa sakit itu timbul kembali ketika mengingat sesosok ayah yang tak bertanggung jawab itu. “ayo dek, sudah bertanyanya, kamu harus tidur, sekarang sudah larut malam” ajak Rina sambal menuntun adiknya.

Satu minggu berlalu, taka ada satu kabar pun dari sepupunya yang bernama Dina. Entahlah, dia jadi atau tidak untuk mengajak Rina berlibur ke Pulau impiannya selama ini. “ma, bisa kah sms ka Dina untuk menanyakan apakah jadi atau tidak untuk mengajakku berlibur ke Bali?” pinta Rina kepada ibunya.

Sambil menungu balasan dari sepupunya, ia mengajak nina (adiknya) main di halaman rumah. Rina pun memberi nina jaring untuk mengangkap kupu-kupu. Pada saat itu ia melihat mobil berwarna merah yang melintasi rumahnya.

Berkhayal kalau saja dia punya mobil, dia akan mengajak ibu dan adiknya untuk berjalan-jalan kemana pun yang ia inginkan. Ketika sampai perempatan jalan, rina melihat mobil itu berbalik arah, entahlah, rina pun tak tahu mau kemana dan dimana mobil itu akan berhenti.

Mobil itu pun berhenti tepat di depan rumahnya. Ia pun berpura-pura tak tahu dan memalingkan wajahnya karena merasa takut. Ketika hendak mengajak adiknya masuk ke rumah, orang itu pun langsung turun dari mobil dan mencegahku untuk masuk ke dalam rumah.

“tunggu!”

ucapnya“siapa kau?

Apa tujuanmu dating kemari?

Aku tidak mengenalmu!!”

“tunggu nak, sebentar, izinkan aku untuk bicara, biarlah adikmu masuk, kau ikutlah dengan ku, tenanglah kau akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu, percayalah nak”

Seketika perasaan rina menjadi tenang kembali dari rasa panik yang ia rasakan tadi. Rina pun menuruti permintaan paman itu.

Dengan tersenyun rina menanggapi uluran tangannya dan berucap “ayo paman” Pada saat itu umur rina masih menginjak 12 tahun.Ibu rina pun sedang bersantai sambil menunggu Rina dan adiknya yang sedang bermain.

cerpen kekecewaan
cerpen kekecewaan

tiba-tiba“ibu..” teriak Nina“Ada apa nina?”“kakak bu, dia dibawa pergi sama orang”“apa! Dibawa kemana nak? Lantas kamu ingat tidak ciri-ciri orang itu?”“aku tidak terlalu ingat bu, yang jelas paman itu menyuruhku masuk kedalam rumah dan meminta kak rina untuk ikut bersamanya” jelas ninaIbu pun lagsung beranjak keluar rumah dan taka da siapapun diluar. Rina telah pergi.

“paman, kau mau membawa ku kemana?” rina pun bertanya“sebentar lagi kita sampai” mobil yang dikendarai paman itu melaju dengan perlahan. Menandakan bahwa sebentar lagi akan sampai. Mobil itu pun berhenti di rumah yang begitu besar.

Di depan rumahnya pun terdapat taman yang begitu luas. Rina sangat menyukainya. “rina, kenapa kau melamun? Ayo kita turun” paman itu mengajaknya turun“kenapa paman itu mengetahui namaku?

” cetus rina dalam hati “ perkenalkan ini rumah paman, kamu tunggu disini sebentar” paman menyuruhnya duduk di kursi tamu. Rina melirik keseluruhan yang ada di ruang tamu. Seketika ia pun tercengang ketika melihat sebuah foto yang sangat mirip dengan Nida, yang tak lain adalah ibunya.

Ibu rani pun memutuskan untuk mencari Rani bersama Nina. Ia sangat khawatir akan keselamatan nina. Ia pun mengemudikan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Nina selalu mengingatkan ibunya agar menurunkan kecepatannya.

Seketika ia melintasi rumah yang didalamnya terdapat mobil berwarna merah. Tepat sekali dengan yang nina katakan, bahwasannya orang yang membawa kakaknya itu megendarai mibil yang berwarna merah.

Ia pun langsung menghentikan motornya dan turun untuk mengunjungi rumah tersebut, tanpa basa-basi ia ibu Nida pun langsung menerobos masuk ke dalamnya. “rupanya kau yang telah membawa anakku pergi!” ujar ibu Rina terhadap paman itu.”ibu” ucap rina“ayo rina kita pulang, ibu banyak kerjaan di rumah”

“tunggu Nida, izinkan aku untuk menjelaskan” ucap paman itu kepada ibu Rina“apa lagi yang perlu di jelaskan”“Rina sudah mengetahui semuanya, ia sudah mengetahui siapa aku dan keluarga ku yang sekarang,

aku pun sudah mengakui kesalahanku, menjelaskan alsan aku meninggalkan kalian selama ini, aku tahu bahwasannya sangat berdosa pada kalian, tapi aku mohon maafkan aku..”“ayah aku memaafkanmu, begitu juga dengan adikku, walaupun ia tidak pernah merasakan kasih sayangmu sampai saat ini.yy

Dan aku mohon pada ibu, tolong maafin ayah ya bu.. aku ingin disisa-sisa kehidupanku dan keluarga yang kami arungi ini hadir sesosok ayah yang sudah lama kami ridukan kehadiran dan kasih sayangnya. Ingin rasanya kami memiliki 4 pasang sepatu, dengan satu pasang sepatu yang paling besar, yang tak lain adalah sepatu ayah” Rina cukupkan perkataannya sampai disitu.

cerpen kekecewaan anak sebi
cerpen kekecewaan anak sebi

Ia menangis tersedu-sedu. Yang ia inginkan sekarang ini adalah menyatukan kembali keramik yang sudah retak dalam kehidupannya. Adalah keinginan paling utama sebelum ia mampu berkeliling dunia. Semuanya terdiam. Rina pun melanjutkan pembicaraannya.

“demi Allah, kalau memang ayah tak bisa melepas tante Rani, Rina rela jika ayah membagi kasih sanyangnya antara keluarga tante rani dengan keluarga ibu, asalkan keluarga kami utuh kembali seperti sedia kala

”Saat itu pula ayah, ibu dan tante Rani pun tersadar bahwa kebahagiaan seseorang itu akan sempurna jika utuhnya kebersamaan keluarga, seiring dengan kelengkapan anggota keluarga dan kasih sayang yang penuh dari kedua orang tua untuk anak-anaknya.

Pada saat itulah keluarga Rina dapat bersatu kembali. Ayahnya pun meminta agar Rina, Nina dan ibunya untuk tinggal bersama dirumah yang sekarang ayah Rina tempati bersama tante Rani.Pada akhirnya ibunda Rani mengiyakan permohonannya.

Keinginan utama Rina pun berhasil diwujudkan. Kini ia mampu menepis rasa sakit yang selama ini dia rasakan ketika mengingat ayahnya.  Ia pun mendapat kabar bahwasannya Dina kehabisan tiket untuk berlibur ke bali. Walaupun dia kecewa, tetapi kekecewaan itu tak mampu merebut kebahagiaan yang sedang dan akan ia rasakan selamanya bersama keluarganya.

Dibuat oleh :

Sa’adah Tri Hayatun,

 

Mahasiswi STEI SEBI jurusan Akuntansi Syariah.

Tinggalkan komentar